Hai.
Namaku Riska. Panggilan Ika.
Entah
apa yang ada di benakku saat ini. Aku bukan tipikal orang yang suka mengumbar
cerita atau aib pribadi. Aku bagai buku yang tertutup rapat dan jarang dibuka
serta sulit dibaca.
Namun,
untuk fase hidupku kali ini yang baru pertama kali menyentuh angka 20 tahun
hidup, aku cukup frustasi terus-menerus menjadi buku berdebu itu.
Di
awal dalam langkahku menulis, aku ingin mengutarakan satu kalimat.
Ini
kisah nyata tanpa rekayasa. Aku ingin berbagi cerita, karena seseorang pernah
berkata bahwa bahagia bisa menyebar ke siapapun di dekatmu. Dan rasa sedih bisa
berkurang dengan berbagi kesedihanmu. Setidaknya, kamu lega. Begitu katanya.
Kukatakan,
aku cukup frustasi. Hampir suatu malam aku berfikir akan gila. Benar-benar
gila, bukan hanya sekedar guyonan orang-orang dalam mengejek dan menghina. Aku frustasi
pada hidup, pada nafas tiap detik yang kuhabiskan dengan sia-sia.
Mendengar
prologku sebagian kalian pasti mengira bahwa ini adalah tulisan salah satu
sampah anak Indonesia. Sampah generasi muda yang tak tahu perjuangan dan
pengorbanan.
Namun nyatanya, aku tidak seburuk itu.
Kan
kutakan dengan jujur, bahwa hidupku 17 tahun lalu hampir terlihat sempurna. Semua
melihat padaku. Semua kagum padaku. Pada diri seorang perempuan kecil yang lugu
namun penuh prestasi dan ilmu. Ya, dulu aku pernah menjadi primadona sekolah. Lebih
tepatnya, menjadi juara umum.
Kesekian
kali dalam ketikan tulisan ini kubuat, aku kembali menarik nafas beratku. Tidak
mudah ternyata untuk berdamai dengan masa lalu. Bisa kukatakan, bahwa musuh
terbesarku saat ini adalah diriku. Aku belum pernah mengalami masalah besar
dengan orang yang bermusuhan denganku. Dan kali ini di awal kehidupan usia 20
tahunku, aku punya rival terbesarku. Dan beratnya, dia adalah aku.
Oh
Tuhan. Bagaimana menceritakannya. Keberanianku belum seberani mereka yang bisa
membuat goresan luka kecil di nadi dalam waktu singkat tanpa kedipan mata. Nyaliku
selalu hanya sebatas memegang benda tajam tersebut dan dengan sisa keberanian
menyentuhnya ke kulitku tanpa meninggalkan bekas apapun disana. Oh, aku ingat
saat keberanianku hampir 90% dimana benda tajam tersebut berhasil kugoreskan di
beberapa bagian kulit terluar. Sakit, perih, dan luka memang. Tapi nyatanya
nyawaku tetap berada.
Sial.
Betapa lemahnya aku.
Enggan
mati, namun enggan pula hidup.
Aku
putus asa. Bisa tolong aku?
Satu
permohonanku. Baca ceritaku, dan tanggapi kapanpun kalian mau.
_riska
19 tahun 11 bulan

Tetep semangat. You'll get through this.
ReplyDeleteKeep spirit for you. Never give up, tetep semangat!!
ReplyDeleteSemangT terus riska.. Aku bantu kamu ya, aku baca cerita kamu :')
ReplyDelete