Terkadang, gue
berfikir. Apa yang sebenarnya gue derita ini? Ketika seseorang tercipta untuk
menjadi manusia sosial, dan gue berusaha memungkiri. Seakan gue menolak menjadi
bagian dari seseorang itu. Seakan gue berharap, ada pengecualian dari sifat ataupun
takdir manusiawi tersebut. Nyatanya, gue tetap manusia yang harus dan wajib
menjadi makhluk sosial di bumi.
Gue gak ngerti
kenapa. Gue susah percaya sama orang lain. Susah untuk berbaik sangka pada
orang lain. Even itu teman dekat
sekalipun, akan ada masa dimana yang ada di fikiran gue adalah “lo mau jahat
sama gue, kan?”. Seakan sifat peduli dan saling percaya sulit untuk gue
ciptakan dalam hati.
Gue tahu itu salah. Tahu
dan sadar 100% bahwa gue mesti dan kudu berubah. Berusaha untuk menjadi orang
lain atau berpura-pura berbeda dengan apa yang gue rasakan bukan keahlian gue. Gue
gak pernah bisa berpura-pura baik pada orang yang gak gue suka. Gue gak pernah
bisa berpura-pura ketawa pada lelucon yang dibuat oleh orang yang gue benci. Intinya,
berpura-pura bukan sifat di diri gue.
Dan itu masalah bagi
gue. Ketika gue tahu bahwa sifat buruk gue adalah gak bisa menaruh percaya pada
orang lain. Ketika gue tahu bahwa gue gak pernah bisa berfikir positif 100%
pada orang lain, dan dampaknya adalah kebencian dan ketidaksukaan itu terpancar
di diri gue. Gak peduli dia teman, dosen, sanak saudara, atau siapapun mereka
yang pernah gue gak suka akan merasakan dampaknya. Seakan mereka yang tidak
bersalah harus bersalah bagi gue. Dan serius, ini menyebalkan.
Gue gak bisa
menjelaskan detailnya. Tapi yang jelas, gak ada satupun di dunia ini yang bisa
gue taruh kepercayaan 100% kecuali mama. Gue gak bisa punya banyak teman karena
diri gue ada yang salah. Gue gak mau kecewa. Gak mau sakit hati pada orang yang
bahkan mungkin gak sadar bahwa mereka buat gue sakit hati saat itu, detik itu.
Ada satu hal konyol
dari dulu yang gue inginkan pada Tuhan jika gue benar-benar menjadi orang taat
pada agama. Bisakah gue hidup sendiri dengan tenang? Tanpa harus terusik. Tanpa
harus bercampur dan berhubungan dengan orang lain? Atau setidaknya, bisakah gue
membangun hubungan baik dengan segelintir orang saja namun bertahan selamanya? Tanpa
harus merasa tersakiti, tanpa harus berfikir negatif pada sesuatu yang belum
terjadi?
Gue berharap bisa. Tapi
gue sadar, gue belum setaat itu pada agama. Dan gue tau itu. Hingga akhirnya,
sampai detik ini doa itu masih tertahan. Belum tersampaikan dengan baik pada
Tuhan.
Harus apa?
-Riska, introvert
parah

No comments:
Post a Comment