Penyakit 20 tahun



Terkadang, gue berfikir. Apa yang sebenarnya gue derita ini? Ketika seseorang tercipta untuk menjadi manusia sosial, dan gue berusaha memungkiri. Seakan gue menolak menjadi bagian dari seseorang itu. Seakan gue berharap, ada pengecualian dari sifat ataupun takdir manusiawi tersebut. Nyatanya, gue tetap manusia yang harus dan wajib menjadi makhluk sosial di bumi.

Gue gak ngerti kenapa. Gue susah percaya sama orang lain. Susah untuk berbaik sangka pada orang lain. Even itu teman dekat sekalipun, akan ada masa dimana yang ada di fikiran gue adalah “lo mau jahat sama gue, kan?”. Seakan sifat peduli dan saling percaya sulit untuk gue ciptakan dalam hati.

Gue tahu itu salah. Tahu dan sadar 100% bahwa gue mesti dan kudu berubah. Berusaha untuk menjadi orang lain atau berpura-pura berbeda dengan apa yang gue rasakan bukan keahlian gue. Gue gak pernah bisa berpura-pura baik pada orang yang gak gue suka. Gue gak pernah bisa berpura-pura ketawa pada lelucon yang dibuat oleh orang yang gue benci. Intinya, berpura-pura bukan sifat di diri gue.

Dan itu masalah bagi gue. Ketika gue tahu bahwa sifat buruk gue adalah gak bisa menaruh percaya pada orang lain. Ketika gue tahu bahwa gue gak pernah bisa berfikir positif 100% pada orang lain, dan dampaknya adalah kebencian dan ketidaksukaan itu terpancar di diri gue. Gak peduli dia teman, dosen, sanak saudara, atau siapapun mereka yang pernah gue gak suka akan merasakan dampaknya. Seakan mereka yang tidak bersalah harus bersalah bagi gue. Dan serius, ini menyebalkan.

Gue gak bisa menjelaskan detailnya. Tapi yang jelas, gak ada satupun di dunia ini yang bisa gue taruh kepercayaan 100% kecuali mama. Gue gak bisa punya banyak teman karena diri gue ada yang salah. Gue gak mau kecewa. Gak mau sakit hati pada orang yang bahkan mungkin gak sadar bahwa mereka buat gue sakit hati saat itu, detik itu.

Ada satu hal konyol dari dulu yang gue inginkan pada Tuhan jika gue benar-benar menjadi orang taat pada agama. Bisakah gue hidup sendiri dengan tenang? Tanpa harus terusik. Tanpa harus bercampur dan berhubungan dengan orang lain? Atau setidaknya, bisakah gue membangun hubungan baik dengan segelintir orang saja namun bertahan selamanya? Tanpa harus merasa tersakiti, tanpa harus berfikir negatif pada sesuatu yang belum terjadi?

Gue berharap bisa. Tapi gue sadar, gue belum setaat itu pada agama. Dan gue tau itu. Hingga akhirnya, sampai detik ini doa itu masih tertahan. Belum tersampaikan dengan baik pada Tuhan.

Harus apa?

­-Riska, introvert parah

No comments:

Post a Comment

Him

Menyukai lawan jenis itu menyakitkan, ya? Tidak ada yang salah, tidak ada masalah Namun rasanya hari bisa begitu sesak hingga sulit bern...