“dari
aku, aku yang merindu dalam tenang, dan merindu tidur dalam hujan”
Aku baru sadar,
bahwa depresi bisa merubah seseorang.
Ini hari keduaku terbaring lesu di kamar. Sakit. Sudah ke dokter, namun tetap saja nafsu makan itu belum ada. Betapa banyak upaya tante dan om dalam menyodorkan segala jenis makanan yang enak dan gratis tetap saja terasa hambar untuk dirasa. Mirisnya orang sakit.
Aku lelah lahir
batin. Mudah sekali depresi.
Tadi pagi aku iseng
membuka pencarian di akun sosmed kebanggaan Indonesia, instagram. Diriku menemukan
tulisan mengenai tanda-tanda orang depresi. Diantaranya tidak mood, tidak ada
yang membuat senang, susah tidur atau kelebihan tidur, dan merasa hampa. Kosong.
Setelahnya, aku sadar. Oh, aku depresi ternyata.
Berat ternyata
menginjak usia 20 tahun ini. Sebentar lagi, lebih tepatnya 8 hari lagi aku akan
genap 20 tahun. Tidak ada yang kuinginkan, mengingat setiap hulangtahun aku
memang tidak pernah minta dan tidak ada juga yang ingin merayakan. Dan setelah 20 tahun melaluinya, aku rasa aku telah terbiasa.
Satu hal yang
membuatku sangat depresi. Aku lelah menjadi manusia. Lebih tepatnya lelah saat
aku sadar aku tertinggal dari kebanyakan manusia lainnya. Toxic yang disebarkan oleh akun instagram jahannam itu benar-benar
telah meracuni otakku setiap harinya. Bayangkan saja, setiap hari yang kulihat
orang-orang bahagia, pergi sana jalan sana, banyak duit ntah dari mana, serta
mereka yang dianggap hebat secara otak dan fisik rata-rata merupakan orang yang
seusia denganku. Lebih tepatnya manusia yang sukses di usia muda.
Ya, sejak lama aku
telah mengikuti banyak sekali influencer bahkan
orang yang bukan dikategorikan influencer
namun memiliki semangat hidup 45 di akun instagramku. Hal itu aku lakukan
agar kedepannya aku pun terpacu dan bersemangat. Setidaknya harapan hidup akan
lebih meningkat dengan melihat dan menyaksikan kehidupan orang-orang asing
tersebut.
Namun, nyatanya
diriku sedepresi itu. Melihat mereka yang telah maju, membuatku tertinggal jauh
tanpa sadar memacu otak dan jiwaku dengan pertanyaan “lo kapan sukses, hah?”
atau “Gini-gini aja hidup lo! Sampah!”. Yap, mengutuk diri sebagai sampah untuk
pertama kalinya dalam hidupku.
Dulu, aku bukan
sampah. Aku manusia yang diidolakan. Tepatnya saat SMP aku menjadi juara umum,
peraih juara 1 Olimpiade Kimia Tingkat SMP se-Provinsi Lampung, masuk dalam
jejeran Dai’yah Muda Lampung, dan prestasi lain yang sukses membuat orang iri
campur berdecak kagum. Hebat bukan? Namun, nyatanya di usia 20 tahun ini aku
hanyalah sampah yang punya masa lalu segudang prestasi dan ilmu.
Apa yang salah? Tidak
ada. Pernah aku putus asa? Tidak pernah.
Merantau dan pergi
jauh dari lindungan ketek mama sejak 17 tahun lalu tidak sedikitpun menyeret
semangatku. Aku tetap berjuang dalam akademik serta meraih mimpiku melalui
lomba dan kegiatan-kegiatan positif lain.
Sejak SD, aku senang
ikut lomba. Dan setiap jenjang pendidikanku, aku memasang target. Jika di SMP
aku bisa juara Provinsi, maka SMA aku harus juara nasional. Dan di kedua
jenjang pendidikanku tersebut aku berhasil meraih mimpiku itu. Namun, ada yang
berbeda dengan jenjang tertinggi dalam hierarki pendidikan, masa kuliah.
Sudah hampir 3 tahun
aku memasang status sebagai MAHASISWA. Yap, maha. Kurang hebat apa status itu. Namun,
nyatanya belum juga aku merasa, bukan hanya merasa; faktanya aku tidak sehebat
status pendidikanku. Belum sekali pun aku meraih kemenangan di lomba apapun. Paling
hebat, aku masuk dalam jejeran finalis lomba essai nasional, atau semifinalist
lomba karya tulis ilmiah tingkat umum.
Menyedihkan bukan? Belum
sekali pun di jenjang kuliah ini kupegang piala sendiri. Dan ini mengenaskan
untukku. Untuk diriku yang telah memasang target sejak bertahun-tahun lalu.
Pernah aku putus
asa? Lagi-lagi kalimat tanya ini mendarat di jidatku. Tentu saja TIDAK! Bahkan,
pernah dengan angkuhnya saat aku gagal (lagi) dalam lomba yang kuikuti aku
berkata, aku akan coba lomba lain lagi, terlepas Tuhan bantu atau tidak. Sombong?
IYA. Namun, ternyata disitu ada kekuatan. Ntah dari mana, yang jelas aku tidak
jadi putus harapan.
Telah tak terkira
berapa lomba yang kuikuti, berapa ratus atau mungkin telah jutaan duit bulanan
yang kuhabisi untuk daftar lomba sana-sini tanpa sepengetahuan orangtuaku. Namun,
nyatanya aku hanya pecundang yang gagal berkali-kali.
Lantas aku harus
apa? Menyerah dengan keadaan seperti ini lebih membuatku menjadi pecundang
idiot kelas kakap. Namun, jika terus-menerus dilanjutkan, mungkin depresiku
akan naik ke level gila atau kurang waras.
Ya, aku depresi. Sering
sakit. Sering insomnia. Sering pusing. Mengantuk. Hingga berfikir ingin
memotong urat nadi. Untuk apa nadi ini? Begitu kata yang terdengar di telinga
sebelah kiri.
Hari ini hari
keduaku terbaring di kamar. Sembunyi dalam selimut selama berjam-jam. Hingga aku
terbangun dalam keadaan basah kuyup oleh keringat. Tadi, jam 2 siang saat
sedang basah-basahnya oleh keringat di punggung, aku merasa ada yang beda. Lebih
tepatnya, di bagian punggung sebelah kiri. Terasa panas, seperti berada didekat
sumber api. Memang udara kamarku sedang hangat-hangatnya, namun mengapa hanya
bagian tersebut yang terasa amat panas?
Karena terlalu lelah
untuk menggunakan otak berfikir kemungkinan-kemungkinan yang mungkin terjadi di bagian punggung
malangku tersebut, aku termenung. Merasakan sensasi udara panas, dan sensasi
pembakaran di punggung kiriku. Lagi-lagi, saat termenung tersebut fikiranku
menerawang. Depresion attact kembali datang.
“ngapain sih, lo? Mau jadi apa, sih?” kira-kira begitu pertanyaan yang
terdengar.
Dan dengan beribu
fikiran jahat di otak, ditambah suasana panas yang mendukung, kembali kurasakan
depresi akut-ku datang. Ya, aku ingin bunuh diri. Ingin menyudahi sesuatu yang
bahkan belum sampai garis finish.
Aku lelah lahir
batin. Sejak lama, impianku hanyalah ingin sukses di usia 20 tahun. Ingin punya
usaha sendiri. Ingin dapat duit sendiri. Ingin mandiri. Ingin kasih uang ke
mama papa karena usahaku sendiri.
Nyatanya, diriku usia
20 tahun lebih bobrok dibanding diriku yang berusia 12 tahun lalu. Tidak ada
satupun prestasi yang berhasil kuraih. Membuka online shop berujung gagal dan terbengkalai. Prestasi akademik juga
tidak seberapa, belum bisa dikategorikan calon mahasiswa cumlaude.
Lantas, untuk apa
aku hidup? Untuk apa aku jadi mahasiswa jika hanya berakhir sebagai sampah?
Apa yang ada di
benakku saat ini benar-benar menyiksa. Tanpa sadar, dalam waktu mungkin 5 menit
lewat hal yang ada di fikiranku adalah rencana jahat untuk menyudahi hidup. Aku
berfikir bagaimana cara efektif untuk memotong urat nadi tanpa harus melihat
dan membayangkan hal-hal yang akan menghentikan upaya pemotongan tersebut.
Sesuatu yang sejak lama masuk ke otakku namun belum tertunaikan sampai saat
ini.
Aku juga berfikir
kemungkinan-kemungkinan lain. Tentang syurga dan neraka. Tentang siksaan di
akhirat. Semuanya, yang pernah kutahu dan pernah kupelajari dalam pelajaran
agama lantas hilang begitu saja selama kurang lebih 5 menit lewat.
Aku tersentak. Memang
sakit dan depresi, namun jiwaku masih ada. Setelahnya, aku membuka aplikasi WA
dan mengetik obrolan pada sahabatku. Kuterangkan apa yang tengah terjadi padaku
5 menit lalu. Ia menyuruhku ber-istighfar.
Sesuatu yang sering kuucap namun sering tanpa tahu maknanya.
Lantas, aku harus
apa?
Se-frustasi itu aku.
_Riska, sakit maag campur diare campur depresi akut

No comments:
Post a Comment