03.00 a.m





“Ya Tuhan, pintaku terdalam saat ini, tolong jangan biarkan aku hilang dalam pandanganMu. Hilang dalam peliharaMu, tolong jaga aku. Kembalikan jiwaku dalam ragaku. Aamiin”

Pagi ini untuk kesekian kalinya, aku terbangun dari tidurku yang hanya berhasil kutempuh dalam waktu 3 jam. Sudah hampir sebulan malamku kulewatkan dengan kegelisahan dan ketidak nyenyakan dalam tidur tanpa sebab. Aku rindu mati suri yang lama pada malam. Aku rindu tidurku yang nyenyak. Aku rindu hidupku yang lama.

Tanpa kusadari aku membuka tulisan-tulisan lamaku di salah satu folder dalam laptop baruku. Ya, laptop yang baru berusia 3 bulan ini dibelikan oleh ayahku sebab laptop yang lama telah  berpindah tangan ke pencuri tak bertanggungjawab. Mengingat kenangan dan banyaknya cerita di laptop yang hilang tersebut membuat sedihku kembali datang. Naas memang.

Bosan membaca tulisan tanpa kejelasan masa depan cerita tersebut membuatku beralih ke smartphone dan iseng membuka sosial media kebanggaan rakyat Indonesia. Ya, instagram. Layaknya netizen dan anak muda pada umumnya, aku yang memang sedang bergabut ria tanpa sadar membuka dan menonton semua snapgram orang-orang yang kuikuti hingga terlarut didalamnya. Pekerjaan sampah yang sukses membunuh waktu. Menonton cerita orang yang kebanyakan hanyalah gimmic dan cerita tak bermakna membuat diriku tanpa sadar telah membuang waktuku sekitar 45 menit hanya untuk mengerjakan ‘pekerjaan’ tersebut. doing something that I called, garbage work.

Aku berhenti dan menutup aplikasi sampah ter-favorite itu dengan perasaan kesal. Lagi-lagi diriku membayang dan menatap langit-langit kamar dengan perasaan kosong dan gundah. ‘kenapa mereka hidupnya enak banget ya?’. Sebuah pemikiran yang baru kudapat sejak hidupku beralih ke dunia teknologi dan dunia modern ala ibukota.

Sejujurnya perasaan iri dengki pada kehidupan orang lain juga pernah kurasakan saat aku belum merantau ke Jakarta. Namun, kehidupanku di Lampung tempat kelahiran dan sekaligus wilayah menetap selama 17 tahun tersebut telah menjadi lingkungan tumbuh dan berkembang yang baik untuk diriku. Orang-orang yang apa adanya, kerja keras bagai kuda, berbicara sesuai fakta walaupun dengan nada keras dan menyakitkan, serta tak lupa lingkungan yang masih sangat taat pada agama membuat hidupku selama 17 tahun mengalir dengan indah. Ditambah hidupku sebelumnya tidak pernah tergantung pada gadget dan sosial media. Kegundahan serta kekosongan memang pernah kurasakan, namun aku dan lingkunganku selalu bisa memberi jalan pulang untuk kembali ke kehidupan damai nan bahagia. Tidak seperti sekarang.

Aku tidak berusaha melebih-lebihi ataupun berupaya memberi ironi dalam ceritaku. Aku berbicara sebagaimana anak yang tengah beralih ke kehidupan dewasa usia 20 tahun dimana sedang sangat mengalami krisis identitas diri yang cukup kronis. Aku tidak tahu lagi apa itu baik dan buruk, aku sulit mengerti yang mana prioritas dan yang mana yang tidak. Aku sulit membedakan yang mana nasihat dan yang mana ucapan dibalik kebencian.
Semua kulalui dengan sulit disini. Lingkungan yang negatif, teman-teman yang bahagia dan kemudian setelah setahun lewat baru kurasakan bahwa mereka yang kusebut teman dan best friend itu ‘kelewat’ bahagia hingga rasa-rasanya lupa daratan.
Aku tidak bilang hidupku sengsara selama di Ibukota. Justru, teman-teman, sanak saudara, dan keluargaku di Lampung menganggap aku bagaikan bukan anak rantauan. Hidupku ‘terlihat’ bahagia. Update status dan snapgram terbaik yang selalu menjadi tontonan, menjadi seorang Riska yang ceria dan bahagia. Beda dengan si Riska 17 tahun lalu yang kaku, dan amat pendiam. Bagi mereka dan bagi dunia aku seperti terlahir kembali dalam keadaan menatap dunia lebih bahagia.

Teman-temanku di Jakarta cukup banyak. Mereka bahkan sebagian menganggapku seakan moodboster yang tidak akan seru obrolan jika tidak ada aku disana. Sebuah keniscayaan mengingat obrolan dan pertemanan dalam jumlah yang banyak sering kali membuatku menjadi pendengar terbaik dan penyumbang tawa ter-receh di setiap kisah receh yang terucap. Intinya, aku tidak pernah menjadi moodboster untuk siapapun. Tidak di sekolah dasar, tidak di SMP, tidak di SMA. Dan di dunia perkuliahan ini akhirnya aku merasakannya.

Bahagia? Tentu saja. Kerjaanku tiap hari adalah tertawa bahkan untuk hal yang dianggap tidak lucu oleh mayoritas orang. Aku bahagia, dan bahkan lebih dari bahagia. Hingga akhirnya aku rasa aku kelewat batas.

Aku tidak kenal siapa aku. Di pagi dan siang aku tersenyum dan senang. Namun di malam aku terjaga dan gundah tanpa sebab. Aku bimbang entah pada siapa.

Salahkah aku bahagia? Terkadang aku lupa siapa aku, lupa pada agama yang selama ini aku anut. Lupa bahwa manusia di bumi seharusnya mengurangi tertawa dan banyak menangis. Aku lupa, bahwa hidupku yang damai dalam 17 tahun dahulu didasarkan kedamaian lingkungan islami.

Namun, lingkungan tersebut hilang dalam sekejap disini. Tak ada lagi kurasakan kedamaian. Walau begitu, aku bahagia. Sungguh. Aku bahagia dalam setiap cerita yang kami bagikan dalam tiap obrolan. Aku bahagia melihat tingkah konyol nan idiot dari teman-teman yang kusebut sahabat. Aku bahagia bertingah konyol namun apa adanya bersama mereka yang telah kuanggap keluarga di Jakarta.

Dalam itu semua, ada satu yang menjadi kejanggalan. Ketakutanku pada malam. Seakan bulan, dan bintang memusuhi, seakan prinsip tidur di malam hari ataupun berdamai dengan hidup di malam hari tak berlaku pada hidupku saat ini. Aku hilang pada malam, namun menebar tawa pada pagi dan siang.

Hingga keseimbangan itupun runtuh. Kegelisahan dan rasa kantuk di pagi hari akibat bermusuhan pada semalam penuh membuat pagiku sulit untuk terbangun. Sering kali bagai mayat bangun. Lelah secara fisik, gundah secara nurani.
Aku harus apa?
Diriku tidak bisa lagi curhat dan cerita pada mama mengingat mama 2 tahun lalu mati-matian menolakku merantau ke ibukota. Menceritakan kegelisahan dan kesedihan pada malamku disini hanya akan memperkeruh suasana. Pada akhirnya, aku tak lagi seakrab dulu dengan mama.

Mama orangnya taat agama. Apapun itu, dan bagaimana pun masalahnya mama selalu memberi nasihat berlandaskan agama. Sedetik setelahnya sering kali aku rasakan, kenapa aku sedikit muak?

Aku malu pada Tuhan. Malu mengingat diriku pernah setaat itu menjadi hamba-Nya. Namun, dulu aku kaku dalam hidup. Aku tak pernah sebahagia ini dahulu. Aku selalu menjaga diriku dan menganggap sopan santun di depan umum telah menarik kebebasanku. Kebebasan dalam tertawa, kebebasan dalam menertawai hidup.

Aku harus apa?

Tolong bantu.


Dari diriku. Aku yang bahagia pada siang, dan sedih pada 
malam.

_riska 19 tahun 11 bulan

1 comment:

  1. Kamu pasti bisa bahagia di siang dan berdamai pada malam. :)
    Jaga Allah maka Allah lebih menjaga kamu. :)

    ReplyDelete

Him

Menyukai lawan jenis itu menyakitkan, ya? Tidak ada yang salah, tidak ada masalah Namun rasanya hari bisa begitu sesak hingga sulit bern...