03.00 a.m datang lagi







“Kemarin aku manusiawi. Merasa lebih banyak dan peduli pada diri. Namun sekarang, aku mati lagi”

Aku berharap diriku sembuh seratus persen. Namun nyatanya, panic attact serta depresi kembali hadir mengisi waktu malamku. Dan kali ini, mungkin agak lebih baik dari kemarin.

Aku mulai ceritaku dengan kenyataan alasan aku berhenti menulis beberapa waktu lalu dikarenakan diriku yang sudah memulai waktu dengan lebih banyak kesibukkan. Aku sudah magang, dan itu agak melelahkan untuk diriku yang mudah lelah dan sakit secara fisik. Namun disatu sisi aku bahagia, di sisi lain mungkin juga tidak.

Aku tidak tahu kenapa dengan diriku. Kurasa bersyukur bukan merupakan ciri khas-ku. Sejak lama, hidupku selalu dipasangkan target dan pencapaian yang ingin aku capai. Menyenangkan ketika diriku bangun di pagi hari dan mengingat bahwa harapanku masih ada, target-target itu yang membuatku bersemangat dalam menjalani hari baru esok harinya. Namun nyatanya, aku baru sadar ada rasa ketidakpuasan dalam menata hidup darinya. Seakan target hidupku merenggutku dari rasa syukur dan berkecukupan. Intinya, aku tidak pernah puas dengan pencapaian apapun dalam hidupku, selalu ingin lagi dan ingin tambah lagi. Seperti itu.

Bukankah itu bagus? Mengingat tidak semua orang memiliki ambisi dalam hidupnya membuatku sadar bahwa aku tergolong manusia ambisius. Namun, lama kelamaan ada rasa yang hinggap didiriku akibat sifat haus akan kehidupan tersebut. ada satu ruang hampa yang bolong akibat ambisiku pada hidup yang kusadari darinya bahwa aku kurang sering mengucap syukur.

Aku senang magang. Aku senang bahwa diriku ternyata diberi kepercayaan di kantor pertamaku bekerja. Namun nyatanya, aku berharap lebih pada kenyataan. Keinginan untuk menjadi manusia sukses di usia muda memaksaku berfikir lebih kejam seperti “Untuk apa aku disini? Buang-buang waktu”. Maksudku, kalian tahu artinya, bukan? Bekerja di kantor ‘orang’ memaksa kalian membuang waktu berharga untuk duduk disana, bermain data di laptop mereka, kegiatan-kegiatan yang kurasa tidak menambah nilai ‘produktivitas’ pada diriku tentunya.

Aku tidak mengerti. Bukan ini yang kuinginkan, namun beginilah caranya. Aku ingin sukses, ingin merasakan kerja di sebuah pekerjaan tanpa harus menunggu dan mencari tahu harus apa dan dikemanakan waktuku yang ada. Jujur, aku senang. Mengetahui bahwa waktu siang hingga malamku dihabiskan untuk mengerjakan magang tentunya tidak membuang waktu dengan percuma seperti kegiatan menganggurku sebelumnya, namun nyatanya yang ada di otakku selama aku berada di kantor adalah “buang-buang waktu saja”.

Mungkin, jika aku menjadi kalian aku akan mengecap orang yang menulis cerita sampah ini dengan manusia egois yang tidak pernah bersyukur. Aku tahu itu, dan aku sadar pada buruknya sifatku tersebut. Namun, di satu sisi aku hanya ingin jujur mengenai perasaanku menjalani waktu magangku. Aku tidak tahu akan jadi apa aku kelak, namun satu yang kusadari, diriku nampaknya mudah bosan pada kegiatan yang monoton dan berulang.

Aku bersyukur, aku senang pada hariku yang baru. Aku hanya ingin jujur pada perasaan sedihku yang tertutup. Hanya itu.

Tuhan, jangan laknat aku.


Riska, kurang bersyukur.

No comments:

Post a Comment

Him

Menyukai lawan jenis itu menyakitkan, ya? Tidak ada yang salah, tidak ada masalah Namun rasanya hari bisa begitu sesak hingga sulit bern...