“Kemarin aku
manusiawi. Merasa lebih banyak dan peduli pada diri. Namun sekarang, aku mati
lagi”
Aku berharap diriku
sembuh seratus persen. Namun nyatanya, panic
attact serta depresi kembali hadir mengisi waktu malamku. Dan kali ini,
mungkin agak lebih baik dari kemarin.
Aku mulai ceritaku
dengan kenyataan alasan aku berhenti menulis beberapa waktu lalu dikarenakan
diriku yang sudah memulai waktu dengan lebih banyak kesibukkan. Aku sudah
magang, dan itu agak melelahkan untuk diriku yang mudah lelah dan sakit secara
fisik. Namun disatu sisi aku bahagia, di sisi lain mungkin juga tidak.
Aku tidak tahu
kenapa dengan diriku. Kurasa bersyukur bukan merupakan ciri khas-ku. Sejak lama,
hidupku selalu dipasangkan target dan pencapaian yang ingin aku capai. Menyenangkan
ketika diriku bangun di pagi hari dan mengingat bahwa harapanku masih ada,
target-target itu yang membuatku bersemangat dalam menjalani hari baru esok
harinya. Namun nyatanya, aku baru sadar ada rasa ketidakpuasan dalam menata hidup
darinya. Seakan target hidupku merenggutku dari rasa syukur dan berkecukupan. Intinya,
aku tidak pernah puas dengan pencapaian apapun dalam hidupku, selalu ingin lagi
dan ingin tambah lagi. Seperti itu.
Bukankah itu bagus? Mengingat
tidak semua orang memiliki ambisi dalam hidupnya membuatku sadar bahwa aku
tergolong manusia ambisius. Namun, lama kelamaan ada rasa yang hinggap didiriku
akibat sifat haus akan kehidupan tersebut. ada satu ruang hampa yang bolong
akibat ambisiku pada hidup yang kusadari darinya bahwa aku kurang sering
mengucap syukur.
Aku senang magang. Aku
senang bahwa diriku ternyata diberi kepercayaan di kantor pertamaku bekerja. Namun
nyatanya, aku berharap lebih pada kenyataan. Keinginan untuk menjadi manusia
sukses di usia muda memaksaku berfikir lebih kejam seperti “Untuk apa aku
disini? Buang-buang waktu”. Maksudku, kalian tahu artinya, bukan? Bekerja di
kantor ‘orang’ memaksa kalian membuang waktu berharga untuk duduk disana, bermain
data di laptop mereka, kegiatan-kegiatan yang kurasa tidak menambah nilai ‘produktivitas’
pada diriku tentunya.
Aku tidak mengerti. Bukan
ini yang kuinginkan, namun beginilah caranya. Aku ingin sukses, ingin merasakan
kerja di sebuah pekerjaan tanpa harus menunggu dan mencari tahu harus apa dan
dikemanakan waktuku yang ada. Jujur, aku senang. Mengetahui bahwa waktu siang
hingga malamku dihabiskan untuk mengerjakan magang tentunya tidak membuang
waktu dengan percuma seperti kegiatan menganggurku sebelumnya, namun nyatanya
yang ada di otakku selama aku berada di kantor adalah “buang-buang waktu saja”.
Mungkin, jika aku
menjadi kalian aku akan mengecap orang yang menulis cerita sampah ini dengan
manusia egois yang tidak pernah bersyukur. Aku tahu itu, dan aku sadar pada
buruknya sifatku tersebut. Namun, di satu sisi aku hanya ingin jujur mengenai
perasaanku menjalani waktu magangku. Aku tidak tahu akan jadi apa aku kelak,
namun satu yang kusadari, diriku nampaknya mudah bosan pada kegiatan yang monoton
dan berulang.
Aku bersyukur, aku
senang pada hariku yang baru. Aku hanya ingin jujur pada perasaan sedihku yang tertutup.
Hanya itu.
Tuhan, jangan laknat
aku.
Riska, kurang
bersyukur.

No comments:
Post a Comment