Untuk Diri yang Jenuh




Karena sejatinya, saat beralih ke masa dewasa adalah saat tersulit untuk dijalankan. Akan kamu jumpai sedih, duka, bingung tanpa sebab, gelisah, cemas, ragu dalam bertindak, gelisah pada pilihan yang tak pasti, hingga perasaan menyedihkan lainnya. Dirimu akan bertarung pada dirimu. Sebuah pertarungan yang tidak pernah kamu bayangkan dan inginkan sebelumnya namun harus dan wajib kamu tempuh demi bertahan hidup.

Dirimu yang dahulu satu per satu lenyap. Seakan dipaksa hidup di era yang bukan era-mu. Seakan dipaksa menarik oksigen yang belum pernah kamu hirup dalam hidupmu. Sejatinya, dirimu diminta berubah oleh kondisi di dalam dirimu, dan kamu harus sadar akan hal itu.

Ada beberapa orang yang kebingungan oleh dalam dirinya, akibat ketidaksadaran akan pertarungan tersebut. Ada pula yang bingung pada dirinya yang dipaksa berubah oleh kondisi diluar yang jauh dari jangkauan kemampuannya sendiri. Ada juga yang bingung karena belum tahu harus apa akan tetapi Ia telah sadar bahwa dirinya sedang bertarung. Yap, semua orang punya fase dan rentang waktu yang berbeda untuk memahami keadaan dirinya yang tak lagi sama, dan dipaksa berubah oleh waktu.

Kamu mungkin jenuh, ingin menyudahi sesuatu yang bahkan belum diketahui dimana letak garis start itu. Namun, disini kamu bukanlah yang sendiri dalam berjalan pada perubahan itu. Ada support system yang mungkin sering kali kamu lupakan akibat kebingunganmu pada hidup. Mereka adalah keluarga, teman, orangtua, sahabat, saudara dan sanak keluarga yang dekat namun terkesan jauh. Jauh akibat dirimu yang tengah bingung.

Kamu bisa ber-ego pada diri. Menyumpah serapah pada keadaan yang membelenggu, atau mungkin menyalahkan sang-Pencipta yang terlalu baik selama ini padamu hingga kamu merasa ‘biasa’ akan kebaikanNya tersebut. kamu bisa ber-ego karena sejatinya itulah sifat manusia-mu. Namun, kembali adalah solusi dari masalahmu. Bukankah ego adalah musuh? Musuh dalam diri yang membuatmu menjadi manusia terkutuk. Kamu tahu, aku yakin kamu tahu. Namun, sering kali lupa itu hinggap akibat masalah yang kamu rasa menyakitkan hidupmu.

Cobalah bernafas sejenak. Tarik oksigen yang baru. Hirup perlahan dan berusahalah terbiasa padanya. Ingat cita-cita dan perjuangan yang pernah kamu lakukan di hidupmu yang lama. Berbahagialah pada dirimu yang sedang berjalan merangkak saat ini, karena di akhir-percayalah-ada kebahagiaan tersendiri yang kan kamu rasa setelah melalui semua itu.

Mencobalah menjadi manusia baik. Tersenyum dan berbagi kebahagiaan mungkin menjadi kunci awal memulai hari. Aku tahu 2 hal ini sulit untuk kamu lakukan, karena sejatinya dalam dirimu sedang bersedih. Namun, bukankah senang bisa melawan sedih? Setidaknya, orang lain akan turut bahagia melihatmu bahagia. Mereka akan merasakan energi positif dari dirimu yang berbahagia. Akibatnya, kamu dan dia bisa merasakan energi positif itu bersama, dan sedih itu pun mungkin bisa hilang sejenak.

Aku tahu ini sulit. Namun, apa ada cara lain? Aku rasa, ini yang terbaik dan ini yang diinginkan Penciptamu untukmu lakukan di usia 20-mu saat ini.

Bahagialah...


-Riska, solemnly promise to find her truly happiness

No comments:

Post a Comment

Him

Menyukai lawan jenis itu menyakitkan, ya? Tidak ada yang salah, tidak ada masalah Namun rasanya hari bisa begitu sesak hingga sulit bern...