Bencana Alam




“Aku sadar pada akhirnya kematian itu yang terdekat. Aku sadar pada akhirnya segala sesuatu yang datang akan diakhiri dengan pulang. Aku sadar pada fakta memilukan yang belum terjadi padaku namun telah dialami oleh banyak orang. Aku sadar, hanya saja jujur aku belum siap”

Hari ini pukul 02.08 pagi aku mulai menulis tulisan ini.

Dan hari ini juga adalah tepat 2 hari setelah berita tsunami melanda tempat terdekat dengan kampung halamanku, Banten dan Lampung Selatan. Tsunami yang kemudian kuketahui berasal dari laut yang menjadi tempatku berlayar tiap kali ingin melihat dan berkumpul dengan mama papa. Selat Sunda.

Dari dulu sering ada gempa. Sering ada musibah tanah longsor, kebakaran, banjir bandang, dan bencana lainnya di negeri tercinta. Negeri tempatku lahir ini memang penuh tantangan. Untuk bisa memiliki kekayaan alam yang ada, nampaknya memang tidak mudah bagi negeriku tuk terus mewarisinya hingga generasi cucu cicit kelak. Ada lingkaran gunung berapi didalamnya, ada jalur perjalanan gempa di bawah tempat kaki berpijak. Ada bencana disekitar kehidupan.

Aku tahu dan aku sadar akan semua informasi bencana yang terjadi di tanah kelahiranku. Aku tahu bahwa selama musim 2018 ini begitu banyak bencana alam terjadi seakan bergantian dari daerah ke daerah yang lain. Begitu sedih mendengarnya, begitu pilu melihat beritanya, begitu tak kuasa melihat foto korban yang tersebar di sosial media. Namun, semua itu hanya sekedar ‘begitu’. Hanya sekedar rasa kemanusiaan dan empati akan resah dan kasihan pada korban bencana tersebut. hingga detik ini, sejak kejadian itu menimpa daerahku aku mulai merasakan hal yang lebih dari sekedar ‘begitu’.

Aku ingin berbagi perasaanku yang amat sangat menggangguku beberapa hari terakhir.

Perasaan takut, mungkin itu yang kualami. Aku takut pada sesuatu yang tak pernah kulihat, tak pernah kualami. Fikiranku dan kuyakini menjadi fikiran masyarakat Lampung juga adalah takut bencana itu terjadi lagi, dan takut akan terjadi bencana yang lebih besar lagi. Jujur, perasaan takut ini sangat amat mengganggu. Aku gelisah, takut pada tuhan. Sebuah perasaan yang kurasa telah lama hilang akibat lemahnya iman. Aku takut, sebab aku belum siap.

Untuk diriku yang baru saja menginjak usia 20 tahun, sebuah kata harapan serta cita-cita seakan menjadi prioritas nomor satu dalam hidupku saat ini. Mungkin dulu aku masih bisa berfikir mencari kesenangan dan kepuasan pribadi. Namun, kali ini aku berfikir lebih dari sekedar diriku sendiri. Aku ingin membahagiakan mama papa. Aku ingin membuat hari mereka lebih bahagia. Aku ingin dari diriku timbul senang dan senyum dari wajah mama dan papa. Hanya itu yang kuinginkan.

Dari banyaknya hari yang kulewati dalam nafas hidupku, aku merasa belum juga kuberikan kebahagian pada orangtuaku. Sebab cita-cita itu belum terwujud.

Ada banyak yang kuinginkan terjadi bersama mama dan papa. Bersama keluarga serta sanak saudara. Dari itu semua, doa mendasarku untuk mereka yang selalu kusampaikan pada Tuhan ialah ‘Tolong, panjangkan umur mereka’.

Aku tahu aku umat penuh dosa. Bahkan untuk mengangkat tangan kala berdoa pun aku sering kali malu tanpa sebab. Aku merasa tak pantas, namun juga tidak punya siapa-siapa selain pada-Nya.

Di hari ini, setelah berita duka itu mendekat ke daerahku, aku mulai berfikir ekstra. Aku berfikir akan dunia dan akhirat. Aku berfikir apa jadinya aku jika Lampung hilang, jika mama papa hilang?

Besok aku kembali ke Jakarta. Aku memilih naik kapal karena akses yang lebih mudah untuk sampai ke tempatku disana. Anehnya, aku tidak takut akan apa yang mungkin terjadi padaku besok selama di perjalanan. Bukankah aku akan melewati Selat Sunda? Tempat yang mengirimkan tsunami tempo hari?

Jujur, aku tidak takut. Yang menakuti setiap malam adalah kenyataan Lampung masih harus siaga terus-menerus. Kabar adanya bencana alam susulan itu masih beredar di daerahku. Walau tempat tinggalku alhamdulillah tidak terkena bencana tersebut, namun rasa sedih masih menakuti kami karena letaknya yang sangat amat dekat dan menjadi jalur perjalananku tiap kali pulang ke daerah asalku. Sungguh amat miris, ketika rasa sedih itu terjadi hanya saat musibah tersebut menghantuimu secara langsung, menimpa daerahmu secara langsung.

Aku berfikir lebih hingga halu itu muncul. Aku tidak ingin menceritakan hal-hal buruk dan halu itu, karena aku takut justru akan menjadi doa yang sama sekali tidak kuinginkan. Yang jelas, aku sayang mama papa, adik dan kakakku melebihi diriku sendiri. Aku sayang Lampung. Jujur dari lubuk hatiku, aku tidak sanggup dan tidak sesabar korban bencana alam di negeriku. Aku masih hamba tuhan yang lemah, yang masih perlu perlindunganNya setiap waktu. Yang masih belum menghasilkan diri terbaik untuk bangsaku.

Aku masih ingin mengejar impianku, impian membahagiakan orangtuaku. Cita-citaku sederhana, hidupku ingin kudedikasikan untuk mama dan papaku. Aku ingin mereka hidup panjang namun bahagia tiap waktu. Hanya itu.

Untuk kalian, teman-temanku. Aku mohon doa untuk Lampung. Jujur, maafku ingin sekali kusampaikan untuk teman di Palu, Lombok yang telah lebih dulu Tuhan beri musibah namun diriku baru hanya sekedar mampu merasa empati dan pilu. Aku belum bisa merasa takut karena egoku dan sikap manusiawiku yang masih dirundung individualistik dan sikap tak mau tahu. Tak pernah mudah mendapatkan musibah, tak ada yang mau merasakan bencana alam terjadi. Namun, memang tidak ada datang tanpa adanya pergi. Aku tahu, namun sering kali lupa itu menutupi akal sehatku.

Doaku, semoga Tuhan mengabulkan. Tolong, jaga kami. Semuanya. Jaga kami, jaga mama papa kami. Kami perlu mereka sebagai perantara kebajikan kami selama di dunia untuk Tuhan yang teramat baik selama ini.

Jujur, aku tidak tahu harus apa jika bencana ini masih terjadi. Aku belum siap, dan belum setegar itu menjadi hambaNya di muka bumi.


Riska, Doa dari semua untuk Tuhan

No comments:

Post a Comment

Him

Menyukai lawan jenis itu menyakitkan, ya? Tidak ada yang salah, tidak ada masalah Namun rasanya hari bisa begitu sesak hingga sulit bern...