Berbeda




Kuawali tulisan ini dengan hembusan nafas panjang. Melelahkan.

Pernah kamu membenci dirimu seakan ingin menyudahinya? Seakan berfikir semua yang kamu lakukan sia-sia? Seakan gagal menakuti harimu di tiap saat? Itu yang tengah kurasakan.

Kan kuawali cerita ini dengan fakta bahwa sejak dahulu aku adalah anak yang optimis. Berbagai gelar telah tersematkan dibelakang namaku. Riska yang suka tantangan, riska yang workaholic, gak mudah nyerah, gak pernah putus asa, mau nyoba lagi dan lagi. Selalu begitu. Sejak SMP aku sudah berkali-kali jatuh dan gagal. Jadi menurutku gagal bagaikan makanan sehari-hari saat diri ini tengah berusaha melakukan sesuatu yang bernilai pada kehidupan.

Namun, semua fakta ini lenyap dikala usiaku menginjak 20 tahun.

Aku tahu aku tidak pernah diberi Tuhan kemudahan. Jika aku menginginkan sesuatu, Tuhan akan memberinya di percobaan 4, 5, atau 6. Semua itu bisa kuprediksi karena pada nyatanya, aku pernah mengalaminya. Intinya, aku merasa baik-baik saja walau gagal itu berkali-kali menerpa.

Di usiaku kali ini, kegagalan tidak lagi bisa kuanggap makanan, melainkan racun yang bahkan belum tersentuh telah menakutiku teramat dalam.

Aku merasa sia-sia.

Aku tidak mengerti kenapa. Aku merasa diputarbalikkan dalam kehidupan yang berbeda. Mulai dari diriku sendiri di pojok kamar 4*4 m, yang sebelumnya kuakui diriku dikelilingi mama, papa,aim, abang yang siap siaga memberikan lelucon dan hiburan untukku di kamar cukup besar. Aku mengidap claustrophobia. Aku takut pada ruang sempit dan menyesakkan. Dan saat ini, kupaksa diriku tidur dan beraktivitas dalam kamar kosan dengan ruangan ‘seadanya’.

Ini benar-benar menyiksa.

Efeknya? Aku tidak mengenal siapa aku. Seakan ingin beraktivitas namun jenuh. Seakan ingin menggapai mimpi namun di alam tidur.

Aku mulai diriku dengan merenung dan merenung. Aku bagai orang sakit jiwa, hanya saja bedanya aku di kosan mereka di rumah sakit yang penuh dengan suster perawat. Disini, aku sendirian. Tidak ada perawat.

Aku punya banyak mimpi. Punya banyak ide yang sudah terorganisir dengan baik. Aku suka menulis ideku dalam esai dan karya tulis. Bahkan, temanku menganggap diriku bagai komputer yang penuh dengan kode tersembunyi yang siap dikeluarkan saat waktu memintanya untuk beraksi. Ya, itulah aku di mata orang lain.

Namun, bagiku aku adalah sampah. Sampah yang menunggu kapan untuk bangun, kapan ke kamar mandi, dan kapan untuk tidur lagi. Aku tak kenal siapa Riska. Tak sadar bahwa dulu Riska penuh dengan segudang prestasi.

Aku merasa, jika aku memulai sesuatu yang terjadi adalah kegagalan tak berarti. Telah banyak upaya yang kulakukan dimana kuberusaha menunjukkan pada Tuhan “Ya Allah, ini usahaku. Ini yang ingin kulakukan, tolong beri hasil terbaik”. Selalu begitu yang kumau dalam doaku. Namun nyatanya, kegagalanku di usia 20 tahun tidak sekedar 4, 5, atau 6. Tidak lagi angka yang kutahu.

Oh Tuhan. Siapa aku? Aku tahu dan sadar kegagalan membuatku kuat. Membuatku mampu bangkit. Namun, boleh kukatakan ini sudah terlalu lama. Aku bingung tanpa sebab. Dulu, aku punya mama untuk berbagi cerita, berbagi doa dengan aku yang berusaha dan mama yang bercerita pada Tuhan minta usahaku berakhir sempurna. Namun, disini aku sendiri. Tidak ada lagi mama. Beda rasanya saat bercerita kami dahulu dan sekarang. Dulu, kami bercerita selepas solat bersama, lalu dilanjut doa panjang tanpa henti dan baca Quran. Sekarang, ceritaku pada mama melalui hp yang ntah aku sedang apa dan mama sedang apa. Mungkin, ini mengapa doaku dan mama jarang dikabul Tuhan.

Aku tahu, aku sadar akan hal itu. Lantas, aku harus apa? Kembali ke Lampung tiap kali meminta mama mendoakanku pada Tuhan? Aku bukan orang berduit segudang yang bisa pulang tiap saat.

Pantaskah aku marah? Mungkin iya. Tapi kata Tuhan tidak. Aku tidak pantas untuk marah.

Aku sedih. Seakan dipaksa berubah oleh matahari yang terbit lebih cepat saat ini. Seakan dipaksa hidup dalam kehidupan orang lain. Dulu, aku memulai hari dengan mengingat dan membayangkan bagaimana aku bisa mendapat nilai terbaik di mata pelajaran hari itu. Sekarang, aku memulai hari dengan fikiran apa yang harus kulakukan hari ini..

Seakan waktu bermain namun tidak mengajakku untuk join. Mengenaskan.

Teman, aku harus apa? Aku ingin kembali pada diriku yang super sibuk dan hebat. Namun, waktu tidak bisa diputar ulang. Hanya bisa maju bahkan direm sejenak pun juga tak bisa. Kadang, mengingat teori waktu membuatku kesal seketika.

Aku ingin produktif, ingin menggapai mimpi. Namun, pemilik mimpi sedang bermain padaku. Aku tahu. Aku berusaha mengingat kembali teori agama yang pernah kupelajari di bangku sekolah dulu. Ada yang salah denganku. Aku sulit mengingatnya.

Tuhan, bagaimana ini?


-Riska, siapa dia?

No comments:

Post a Comment

Him

Menyukai lawan jenis itu menyakitkan, ya? Tidak ada yang salah, tidak ada masalah Namun rasanya hari bisa begitu sesak hingga sulit bern...