Niat




Malam pukul 03.03. Angka yang cantik ketika gue memulai mengetik huruf demi huruf di lembar dokumen baru ini. Gue berharap penuh pada Tuhan agar apa yang tertulis dalam dokumen ini adalah sesuatu yang penting. Sesuatu yang menunjukan adanya integritas didalam jiwa ini yang kalau dosen HR gue bilang, integritas adalah adanya kesesuaian antara fikiran dan tindakan. Ya, gue berharap apa yang gue fikirkan dapat teruraikan dalam tulisan gue kali ini.

Di usia 20 tahun ini gue dilanda musibah maha dahsyat yang merubah pemikiran gue 180 derajat dari sebelumnya. Musibah ketika gue dimusuhin oleh geng gue yang telah menjadi kumpulan kebo bersama gue sejak pertama kali kita masuk kuliah. Mereka adalah keluarga kedua yang kalau boleh jujur teramat gue sayang. Dan bahkan pernah di masa-masa tertentu diri gue yang amat lebay ini mengucap syukur pada Tuhan telah dipertemukan dengan mereka hingga berharap agar kita bisa bersama selamanya. Kata-kata yang jujur diucap sekarang justru membuat gue ingin muntah seketika.

Setelahnya gue sadar, bahwa memang gak ada yang selalu bersama dalam dunia ini. Bahkan cinta sejoli pun kelak akan berpisah walau nyatanya dipaksa pisah oleh maut yang menanti. Faktanya, manusia terlahir di dunia sendiri, dan pulang pun juga sendiri.

Kala dimusuhin oleh kurang lebih 4 orang dalam geng gue itu, gue berfikir keras malam siang. Apa yang harus gue lakuin? Pertanyaan ini seakan mengaung di telinga gue kapan pun gue lagi sendiri. Marah tentu iya, jujur gue disini jadi korban dari mereka yang memusuhi gue tanpa alasan yang jelas. Gak perlu diceritakan kenapanya, karena memang menyedihkan dan semenyedihkan itu untuk diketahui banyak orang. 

Yang jelas, perasaan ingin marah, dendam, balas membalas, dan perasaan negatif lainnya menyerang gue berhari-hari setelah kejadian.
Namun, tepat 1 bulan sejak peristiwa permusuhan itu, gue sadar. Membalas kelakuan mereka ga ada untungnya sama sekali di gue. Mungkin perasaan puas bisa langsung menghampiri, tapi efek nyata di hidup gue gue yakin gak akan ada sama sekali.

Dari renungan selama sebulan itu juga, gue berusaha memulai pembicaraan mendalam dengan diri gue yang ada didalam tubuh ini. Diri gue yang ntah bagaimana bentuknya yang selama ini gue pake 24 jam dalam sehari. Gue mulai pertanyaan seperti ‘riska, kamu hidup kan?’, ‘lo mau apa?’, sampai pertanyaan nada membentak ‘woi sampah, lo ngapain seharian?’.

Gue cuman pengen satu. Keinginan ini yang pada akhirnya berhasil gue temuin selama 20 tahun pertemanan gue dengan diri riska dalam tubuh yang gue pake ini. Gue cuman pengen jadi versi diri gue yang terbaik. Jujur, ketika berusaha menemukan jawaban dari pertanyaan ‘receh’ diatas, seketika gue berusaha memperkecil lingkup pemikiran gue. Impian-impian liar yang selama ini gue dambakan di kehidupan duniawi mulai gue perkecil hingga amat terkecil yang mana mempertemukan gue pada titik awal dari semua mimpi, tindakan, bahkan lamunan panjang gue di kehidupan gila ini. Niat, titik kecil yang selama ini sering gue lupakan karena merasa telah terlalu jauh melangkah menuju mimpi.

Gue ingin niat terbentuk bukan hanya saat memulai sebuah peristiwa dalam secercah kehidupan singkat gue di dunia. Gue ingin dan berharap Tuhan mengabulkan permohonan ini bahwa niat gue yang terbentuk diawal akan menuntun gue melakukan tindakan demi tindakan di waktu kedepan yang gue jalani. Ntah itu dalam strategi yang gue bangun, dalam action plan yang gue bentuk, ataupun dalam proses fisik yang gue jalani. Gue berharap niat itu ada, dan menjadi cahaya bagi terbentuknya diri gue yang selama ini hilang ditelan mimpi.

Dan setelahnya gue sadar, niat yang gue bangun tidak selalu harus berganti mengikuti mimpi yang teramat banyak. Niat yang gue inginkan tidak harus selalu up to date dengan apa yang ingin gue capai dalam kehidupan. Ada niat yang gue sebut main niat atau niat utama dari segala jenis niat. Dan dari sana gue sadar, main niat gue adalah hal yang menjadi alasan gue untuk hidup, alasan gue untuk bertindak, dan alasan gue untuk lebih ‘manusia’ lagi kedepannya. Setelah melalui proses melamun yang panjang, gue menemukan main niat gue yang gue sering panggil mama dan papa.

Sering gue mendengar jawaban dari pertanyaan ‘siapa orang yang paling kalian sayang?’ pasti mama dan papa mereka. 2 pihak yang diketahui telah membuat mereka ada di dunia. Namun, kadang jawaban sayang itu banyak jenisnya. Ada yang pake integritas, ada juga yang asal ngucap atau sering dibilang tong kosong nyaring bunyinya. Banyak anak muda dan mungkin gue selama ini salah satunya yang menganggap menyayangi orangtua hanyalah sebatas pengakuan. Mengakui bahwa kita lahir dari mereka, dan mengakui pada banyak orang bahwa diri kita dibesarkan oleh mereka. Lebih ekstrem lagi, dalam banyak kasus ada beberapa orang yang justru hanya mengakui dalam hati dan malu mengaku pada banyak orang bahwa beliau ini ayahnya, atau beliau yang keriput disana adalah mamanya. Mama yang keriput tangannya karena dulu memandikan dia ketika belum tau apa-apa. Mengenaskan.

Saat ini, gue berharap lebih pada diri gue sendiri. Gue memohon pada Tuhan untuk memberikan gue jenis niat yang berintegritas tinggi. Niat membuat sesuatu yang lebih berarti untuk main niat gue, mama dan papa. Ingin membuat sebuah mimpi menjadi kenyataan dengan alasan mereka lah yang ada dibelakangnya.

Saling mendoakan, gue yakin Tuhan baik pada setiap kejadian.


­_Niat Riska

No comments:

Post a Comment

Him

Menyukai lawan jenis itu menyakitkan, ya? Tidak ada yang salah, tidak ada masalah Namun rasanya hari bisa begitu sesak hingga sulit bern...