Akhir-akhir
ini masyarakat Indonesia dihebohkan dengan informasi adanya keinginan dari
pemerintah khususnya bapak Presiden Joko Widodo dalam memindahkan lokasi
ibukota dari Jakarta ke Kalimantan Timur. Tentu saja, berita ini memberikan
beragam reaksi di masyarakat mengingat Jakarta telah menjadi ibukota negara
Indonesia sejak era kemerdekaan tahun 1945.
Teringat
oleh saya tiga tahun yang lalu saat pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta
sebagai anak rantau yang ingin mengadu nasib di ibukota. Pertama kali yang ada
di benak saya dan mungkin jutaan penduduk rantauan yang datang ke Ibukota
adalah keinginan untuk memperbaiki nasib dan menyambung rezeki di kota
metropolitan ini. Mengapa begitu? Sebab sebagai ibukota Indonesia, Jakarta juga
telah menjadi pusat perekonomian nasional. Berbagai perusahaan-perusahaan
penting di Indonesia berpusat di ibukota, akibatnya penduduk yang ingin
memperoleh lapangan pekerjaan pun berbondong-bondong datang ke Jakarta.
Lantas,
terlintas di benak saya apakah ini fungsi utama Jakarta sebagai ibukota?
Menurut Gist N.P dan Halbert L.A. setidaknya ada enam jenis kelas kota
berdasarkan fungsinya yaitu:
1.
Kota sebagai pusat industri
seperti Detroit dan Mumbai
2.
Kota sebagai pusat
perdagangan seperti New York, London, dan Hong Kong
3.
Kota sebagai pusat politik
seperti Bangkok dan New Delhi
4.
Kota sebagai pusat kebudayaan
seperti Makkah dan Roma
5.
Kota sebagai pusat
rekreasi dan kesehatan seperti Denpasar dan Monaco
6.
Serta yang terakhir kota
yang tidak memiliki fungsi tertentu yang menonjol seperti Monte Carlo dan
Philadelphia.
Faktanya,
kota-kota penting di dunia yang terkenal dengan kekhasan kotanya memiliki setidaknya
hanya satu fungsi utama sebagai ciri khas dari kota tersebut. Lantas, bagaimana
dengan Jakarta? Jakarta sebagai ibukota dari ribuan pulau di Indonesia sejak
lama telah menjadi kota dengan problematika yang amat kompleks didalamnya. Kota
ini selain disebut sebagai ibukota yang berarti sebagai pusat politik dan
administrasi negara juga beralih fungsi menjadi kota bisnis dan perdagangan,
industri, bahkan sebagai pusat pengangkutan untuk beragam jenis transportasi.
Dengan
kenyataan tersebut, pantaslah kita lihat banyaknya masalah terjadi di ibukota
Jakarta. Kemacetan yang menyebabkan masalah polusi, daerah kumuh mewarnai
sudut-sudut ibukota, kriminalitas merajarela, masalah kependudukan tiap
tahunnya yang selalu meningkat, ekonomi penduduk yang rendah, banjir, dan
sebagainya.
Sisi Lain Ibukota Jakarta
Semua
masalah yang terjadi di Jakarta dapat dikatakan secara sederhana karena kota
ini memiliki fungsi yang banyak atau multifunction
city. Jutaan penduduk datang dari luar daerah menuju ibukota untuk
menyambung rezeki dan melupakan fungsinya sebagai pusat administrasi negara
ini. Akibatnya, banyak pihak-pihak yang kesulitan dalam menjalankan perannya
sebagai wakil dari pembangunan negara dan penduduk Jakarta contohnya menteri
negara yang sulit untuk pergi ke kantor karena kemacetan yang parah, penduduk
Jakarta yang kesulitan memperoleh udara bersih yang bebas dari polusi, belum
lagi banjir dan bencana alam lain yang menguasai kota ini.
Untuk
itu, dengan adanya perpindahan lokasi ibukota ini sebetulnya dapat menciptakan
sebuah harapan baru bagi ibukota Indonesia. Sebagai salah satu warga negara
Indonesia, saya amat mendukung penuh keputusan pemerintah dalam memindahkan
ibukota ke tempat yang lebih baik.
Disini
saya ingin mengutarakan harapan dan keinginan pada ibukota Indonesia yang baru.
Harapan saya sebagai penduduk Indonesia adalah menginginkan ibukota yang
memiliki fungsi tetap sebagai pusat politik negeri ini. Pusat politik artinya
adalah sebagai pusat administrasi dan pembangunan negara yang bukan hanya
membangun wilayah tertentu saja namun mencakup semua pulau dalam negeri, pusat
pemerintahan yang baik dan berjalan baik tanpa adanya kendala-kendala besar
yang sebelumnya sering kali terjadi, dan kota yang mampu memainkan peran
besarnya secara tepat yaitu sebagai ‘ibukota’ yang berarti induk dari setiap
daerah di Indonesia.
Dalam
psikologi dikatakan, bahwa cara menurunkan tingkat stres adalah kembali ke
alam. Sudah saatnya ibukota Indonesia menjadi ibukota yang sehat yaitu kota
yang bebas dari masalah lingkungan, kriminalitas, kepadatan penduduk, perbedaan
kepentingan antara politik dan bisnis, kesenjangan sosial, dan sebagainya yang
selama ini meregang di Jakarta.
Sudah
saatnya, pemerintahan kita seutuhnya menjadi fungsi dari ibukota. Jakarta yang
selama ini menjadi impian banyak orang untuk mencari nafkah dapat memainkan
peran utamanya sebagai kota bisnis dan perdagangan.
Harapan
saya bagi ibukota baru adalah mampu menjadi kota yang dihuni oleh wakil-wakil
rakyat dan juga penduduk yang memiliki daya kreativitas tinggi untuk membangun
negeri, kantor-kantor kementerian yang bebas dari fikiran lingkungan yang sakit
sehingga mampu bekerja lebih kondusif, pemberdayaan kantor-kantor BUMN mampu
ditingkatkan lagi, BEKRAF sebagai badan negara yang menaungi industri kreatif
mampu menggaet lebih banyak penduduk yang berinovasi tinggi untuk meningkatkan
perekonomian masyarakat, serta seluruh jajaran pemerintahan yang memiliki
semangat baru untuk bekerja dan melayani rakyat sebagai kaki tangan negara.
Pemberdayaan Kementerian BUMN BEKRAF untuk Industri Kreatif
Peran Anak Muda dalam Membangun Negeri
Karena
sejatinya, bangsa yang besar tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak seperti
pemerintah saja, namun perlu adanya sinergi besar dari masyarakat. Keinginan
untuk menciptakan ibukota baru ini dapat menjadi awal baru bagi Indonesia untuk
menata ulang pusat pemerintahan yang bersih dan menjadikannya sebagai ibukota
yang sehat. Semoga.
_Riska dan Mimpi Ibukota yang Lebih
Baik
(artikel ini dibuat untuk mengikuti lomba menulis artikel "Harapanku untuk Ibukota Baru" oleh Kementerian PPN/Bappenas)







No comments:
Post a Comment