Arti Gagal



Sabtu, 31 Agustus 2019

Hari ini, untuk kesekian kalinya aku gagal meraih mimpi. Harapan yang sudah dibangun sejak 3 tahun lalu selalu berakhir dengan kegagalan diujung.

Banyak yang telah kulakukan untuk melewati lubang kegagalan itu. Kadang tersenyum, berfikir se-positif mungkin pada Tuhan bahwa rencananya lebih baik daripada rencanaku, pilihannya adalah yang terbaik dibandingkan pilihanku. Seakan kegagalan yang menyakitkan itu punya akhir indah diujung.

Semua bercerita tentang harapan, kembali kepada berharap dan berharap. Sesuatu yang abstrak. Aku tahu itu.

Namun, hidup tidak semudah itu, bukan?

Saat terus-menerus meyakinkan diri bahwa Tuhan yang terbaik dan maha baik, tidak pernah dan tidak akan meninggalkanku, dan menyukai mereka yang sabar, pantang menyerah, dan kalimat penyemangat lainnya disaat itu pula ternyata aku mulai berteman dengan penderitaan dan kegagalan. Bahwa rasa-rasanya hidupku berusaha menguji batas sabarku, menguji seberapa lama aku mampu bertahan dengan 
kegagalan itu.

Aku baru sadar, manusia itu punya batas kesabaran, ya?

Hidupku sebelumnya indah. Bagai bayi yang tak berdosa. Ujian yang ada seketika hanya permainan mewarnai hidup yang terus putih tanpa bercak. Paling-paling hanya sampai membuatku menangis beberapa malam dipojok kamar. Dan ujung kebahagiaan itu akan kembali ke rumahnya, hidupku yang selalu indah.

Namun, sekarang beda.

Kegagalan rumahku. Mereka melihatku sebagai makhluk hidup penampung derita hidup. Semua hal yang disebut ‘berjuang’ seakan hanya sebatas proses berjuang, tanpa terlihat hasil dibelakangnya. Yang kulakukan, apapun itu berakhir dengan kegagalan. Dan belum pernah kudapatkan peristiwa hidup begini sebelumnya.

Apa ini tanda karena Tuhan amat sangat menyukaiku?

Beberapa kali di percobaan ‘penghiburan diri’ dari kegagalanku, aku mencoba membaca quotes di akun instagram. Gross, I know. But, if there is another way I would like to know. Mencoba bagaimana kalimat random dari orang random mampu menghibur kesedihanku. Dan benar, ternyata banyak orang hebat diluar sana yang gagalnya minta ampun. Berulang-ulang dan diuji dengan beragam derita hidup.

Jack Ma sang pendiri alibaba itu pernah ditolak saat melamar menjadi pegawai KFC waktu Ia muda, Harland Sanders yang diuji dengan beragam cobaan baru bisa menciptakan bisnis KFC-nya saat usia 65, atau J.K. Rowling yang karya besarnya yaitu Harry Potter pernah berkali-kali ditolak oleh banyak penerbit, sampai ke ilmuwan-ilmuwan dahulu seperti Thomas Alfa Edison yang baru menemukan bohlam lampu di percobaan keseribu, atau Albert Einstein sang ilmuwan legendaris yang sering di-bully oleh orang-orang busuk.

Hikmah dari kisah mereka adalah kita sebagai umat manusia mesti kudu sabar, tetap tenang, dan mencoba berkali-kali melawan kegagalan. Aku tahu itu, siapa juga yang tidak tahu?

Namun, rasa-rasanya sulit untukku di masa sulitku memahami makna dan hikmah itu.

Seakan menguji imanku, instagram memperlihatkan padaku bagaimana hidup orang-orang lainnya yang ‘sempurna’ seakan tanpa ‘ujian hidup’. Maudy Ayunda yang sukses bermain film layar lebar berjudul Laskar Pelangi di usia muda kini berhasil lolos di dua Universitas ternama dunia, atau sang CEO Ruang Guru Belvadera yang mengaku mengalami masa sulit selama bersekolah di luarnegeri nyatanya membuat ribuan orang Indonesia iri dengan kisah suksesnya yang mampu sekolah sana-sini, meraih penghargaan dan cumlaude hingga menjadi CEO di usia dini, sampai ramainya selebgram tanah air yang ntah apa prestasinya namun berhasil meraup untung dari beragam endorse hanya karena wajah mereka yang terlahir indah nan mulus.

Kalau bisa dibandingkan kedua kisah diatas, rasa-rasanya hidup gak adil, ya gak sih? Kayak ingin banget nanya kenapa gitu dan kenapa gini? Seakan fikiran ini terus-menerus memaksa berfikir apa yang salah sama diri ini sampai susaah banget untuk menang, meraih keinginan dan mimpi dengan cepat tanpa harus ada kelok-kelok kegagalan.

Mungkin ini tanda karena Tuhan amat sangat menyukaiku?

Lagi-lagi fikiran baik melanda otakku. Kata siapa Tuhan gak baik? baik, baik bangett. Kalau bukan karena Tuhan aku gak akan bisa nafas sekarang, kalau bukan karena baiknya Tuhan aku gak akan punya rumah, keluarga, kasur, laptop buat ngetik ini tulisan, sampai piama yang sekarang tengah aku kenakan. Intinya, semua hal baik yang kupunya sekarang itu karena Tuhan, dan aku mengakuinya.

Lalu, hal gak baik di-diriku gimana? Apa karena Tuhan juga?

Aku percaya dosa bisa melaknat pembuatnya. Apa yang kamu tanam, itu yang kamu petik. Aku percaya itu, hanya saja jujur di kegagalan yang ntah ‘keberapa’ ini aku menyerah dengan prinsip itu.

Di fase lubang kegagalan dan kehinaanku yang sekarang aku menyerah untuk tidak membandingkan hidupku dengan mereka, dia, dan orang-orang di instagram itu. Aku menyerah berlaku positif, memuji Tuhan setelah mendengar kabar penolakan dan kegagalan itu, aku menyerah berpura-pura seakan hidupku baik-baik saja. Peranku disini adalah manusia biasa, bukan nabi utusan Tuhan.

Aku sadar konsekuensi dari keinginan menyerahku ini. Gak ada positifnya, gak akan membuatku tiba-tiba menang atau sukses mendadak. Tahu rasanya bagaimana? Seakan ribuan setan-setan di neraka datang membisiki telingaku untuk benar-benar menyerah dalam berusaha. Di percobaan hidup suksesku yang ntah ‘keberapa’ ini Tuhan menguji imanku amat dalam. Bahkan, sampai mengirimkan ribuan setan membisikiku dengan beragam kalimat ajakan. Depresi akut menyiksaku, sakit kepala menyerang, dan belum aku temukan obatnya sampai sekarang.

Arti gagal bagiku adalah seperti sekarang. Bohong kalau aku bilang hidupku baik-baik saja. Bohong siapapun mereka yang menganggap dirinya hebat luar biasa sukses Allahu Akbar jika belum pernah dilanda kegagalan dan penghinaan hidup hingga tak terhitung ‘keberapa’-nya. Bagiku, mereka yang hidup mudah itu tak pernah merasakan arti kehidupan. Ya, diriku yang hina ini mulai iri lagi dengan manusia.

Lebih hinanya lagi, aku yang seakan telah terbiasa dengan kegagalan ini masih bisa berdoa dan beribadah. Masih bisa tersenyum pada mama papa. Seakan gagal yang barusan melanda bukan apa-apa. Betapa munafiknya, bukan?

Ingin rasanya aku membenci Tuhan. Berhenti beribadah dan berhenti bersyukur padaNya. Namun, aku sadar aku milikNya, dan aku tinggal di bumiNya. Jika tiba-tiba rumahku di jungkir balikkan mendadak, atau tiba-tiba ada psikopat datang menusukku, sesaat aku sadar rasa benciku pada Tuhan akan berhenti dan berubah menjadi permohonan. Memohon untuk ditolong oleh Ia yang sempat kubenci. Jahat, aku tahu. Dan Tuhan yang maha tahu saat itu pastilah takkan mau menolongku. Siapa juga yang ingin membantu orang yang membencinya, ya kan?

Aku sadar itu. Dan hingga detik ini, aku tak bisa membenci Tuhan. Tidak bisa menghentikan doa. Aku sadar, aku tidak punya pilihan. Ini antara aku dan Tuhan, yang maha tahu segalanya.

Batinku lelah. Ingin memberontak, namun sadar akan konsekuensinya. Begini ya rasanya orang yang tengah diuji imannya? Muak. Amat muak.


To be continue...

No comments:

Post a Comment

Him

Menyukai lawan jenis itu menyakitkan, ya? Tidak ada yang salah, tidak ada masalah Namun rasanya hari bisa begitu sesak hingga sulit bern...